Ada banyak cara untuk menyambut 28 Oktober sebagai hari bersejarah
bagi muda-mudi Indonesia. Salah satunya adalah menggelar peluncuran
buku Bidadari Hati, sebuah kumpulan cerpen remaja yang ditulis penulis
tunanetra Ramaditya Adikara.

“Saat ini bacaan positif yang mampu menggugah semangat dan motivasi
remaja Indonesia belum banyak. Itulah kenapa saya menulis Bidadari
Hati. Di dalamnya berisi kumpulan cerpen seputar remaja yang sarat
akan semangat dan motivasi,” jelas Rama saat ditemui di sela-sela
peluncuran Bidadari Hati yang diadakan di Taman Amir Hamzah Menteng
(29/10).

14925482_10154743605747042_1231044284102808207_n

Dalam acara ini, Rama dibantu oleh komunitas SRS (Sahabat Rekan
Sebaya), beranggotakan mentor dan para aftercare yaitu mantan pengguna
narkoba yang kini hidup positif. “Bagi saya, teman-teman dari SRS
punya semangat juang yang tinggi. Sungguh sebuah kehormatan mendapat
dukungan dari mereka,” tutur Rama.

Bidadari Hati sendiri mengetengahkan berbagai cerita seru, kocak,
namun mengandung makna kebaikan yang kental. Salah satu tokohnya,
wahita, diwujudkan dalam bentuk bidadari. Hal inilah yang membuat Dr.
Aisah Dahlan selaku pembina SRS tertarik mementaskan salah satu
kisahnya dalam bentuk playback theater.

14732327_10154743601747042_9068181209256421681_n

“Buku Bidadari Hati berisi pergolakan suara hati yang umumnya
dirasakan remaja. Dengan menampilkan salah satu ceritanya dalam
pementasan teater, kita — dan remaja khususnya — bisa belajar
menjadi pemuda yang mampu mengenali pribadi dan mengontrol dirinya,”
jelas Dr. Aisah Dahlan seusai acara.

Rama berharap buku Bidadari Hati mampu menjadi salah satu bentuk
peringatan unik Hari Sumpah Pemuda. “Semoga semakin banyak muda-mudi
bangsa kita yang membaca buku ini dan semakin giat berkarya guna
kemajuan Indonesia,” tutup Rama.

 

By. RA