Sahabat,

Maraknya peredaran gelap narkoba di Bali disertai munculnya zat jenis baru yaitu Gorila merupakan masalah serius yang harus segera ditangani. Bila dibiarkan, maka keberadaan pulau dewata sebagai salah satu obyek pariwisata terkemuka di Indonesia akan digunakan pihak-pihak tak bertanggungjawab untuk semakin menyebarluaskan obat-obatan terlarang.

Hal tersebut disampaikan Ibu Hj. Dra. Ani Hani’ah, MM, Ketua PW NU Bali saat membuka seminar bertajuk Membangun Bali Bebas Narkoba pada Minggu (12/2).

Gorila sendiri merupakan zat AB-CHMINACA yang akhir-akhir ini disalahgunakan sebagai obat penenang. Zat itu berjenis Synthetic Cannabinoid. Peredaran Gorila berawal dari Jakarta, dan kini sudah mulai memasuki Bali.

Pada kesempatan tersebut, Dr. Aisah Dahlan selaku narasumber memberi penjelasan mengenai efek jahat dari Gorila. “Pemakainya akan merasa seperti ditimpa Gorila, lalu dia akan dikuasai efek halusinogen.”

Lebih lanjut, Gorila akan menyebabkan penggunanya malas, lemot, dan tak bergairah melakukan apapun.

“Harapan saya, acara ini dapat mengingatkan kembali kepada Masyarakat Bali tentang bagaimana mengenali ciri-ciri dari pengguna Narkoba. Agar Masyarakat dapat menjaga Bali, terutama Keluarga agar selamat dari Narkoba,” tutup Dr. Aisah.

Acara yang diselenggarakan di STIKOM Denpasar ini terlaksana berkat dukungan PW MUSLIMAT NU Bali.