“To be aware is to be alive.” (Bang Jack, Rumah Pengasih)

Menjadi seorang “penagih dadah” (pecandu NARKOBA dalam bahasa Malaysia) ternyata hanya mendatangkan kesenangan dan kebahagiaan sesaat. Setelah pengaruh
dadah berakhir, hanya sakit dan derita yang didapat. Hal itu tak Cuma diiyakan oleh mereka yang tidak mengkonsumsi NARKOBA, tapi juga diakui para after
care yang telah sadar kemudian memutuskan untuk berhenti menggunakannya.

Semua itu kuketahui saat berinteraksi dengan after care dari SRS dan Rumah Pengasih, terutama ketika ajang Morning Meeting berlangsung.

Ada di antara mereka yang dijauhi keluarga dan dikucilkan lingkungannya, ada pula yang kehilangan pekerjaan bahkan keterampilan yang dimilikinya.

“Capek rasanya terus-terusan seperti itu,” ujar seorang after care wanita dari SRS saat bercakap-cakap denganku di suatu sore sambil menikmati panganan
yang disajikan divisi Kitchen Rumah Pengasih. Ia menjelaskan bahwa selama mengkonsumsi NARKOBA dirinya habis-habisan dalam segala hal. Makan jadi tak enak,
perasaan jadi tak menentu, bahkan harta benda habis dijual untuk memenuhi kecanduannya. “Kalau pengaruh obatnya hilang dan rasa sakitnya datang sementara
aku nggak punya uang buat membeli obatnya, rasanya tersiksa sekali,” lanjutnya sedih.

Contoh pengalaman di atas adalah salah satu dari efek buruk penggunaan NARKOBA yang disebut “withdrawl syndrome,” di mana pengguna akan merasakan sakit
yang luar biasa ketika dosis NARKOBA dikurangi atau dihentikan sama sekali. Keadaan ini tentu saja tak sebanding dengan rasa nyaman, asyik, atau percaya
diri yang didapat saat mengkonsumsi NARKOBA, karena rasa-rasa seperti tersebut sebelumnya hanya bertahan sementara, jauh lebih pendek dibanding rasa sakit
setelah pengaruh NARKOBA berakhir.

Lain lagi pengalaman yang dirasakan seorang klien wanita dari Rumah Pengasih. Setelah terjerumus menjadi penagih dadah, ia pun jadi depresi. Sementara
teman-temannya asyik berbincang-bincang dan bersenda gurau, sang klien wanita hanya diam dengan ekspresi muka datar. Ia hanya bicara kalau diajak bicara,
itu pun jarang sekali terjadi. Selain itu, gerak-geriknya jadi lambat dan ia cenderung memisahkan diri dari lingkungannya.

Menurut Kelliat, B. A, depresi sendiri merupakan salah satu gangguan alam perasaan yang ditandai dengan perasaan sedih yang berlebihan, murung, tidak bersemangat,
merasa tidak berharga,
merasa kosong, dan tidak ada harapan. Selain itu mereka biasanya hanya berpusat pada kegagalan dan menuduh diri,  sering disertai iri dan pikiran bunuh
diri. Dengan kata lain, klien tidak berminat pada
pemeliharaan Diri dan aktivitas sehari-hari.

Apakah efek buruk NARKOBA hanya sebatas itu? Ternyata tidak! Selain merusak system kesehatan tubuh, NARKOBA pun mampu membuat penggunanya jadi kurang waras
bahkan gila!

Saat aku berjalan-jalan di kawasan Twin Tower, seorang after care bercerita padaku bahwa ketika ia mengkonsumsi dadah yang terbuat dari kotoran binatang
(Magic Mushroom), dirinya jadi berhalusinasi yang aneh-aneh. “Padahal aku sedang berdiri di tanah lapang, tapi aku merasa tanahnya berubah jadi kolam renang,
jadi aku langsung tiduran dan menirukan gaya orang berenang,” kenangnya.

Beruntung ia masih terselamatkan. Menurut keterangannya, salah seorang temannya yang kala itu mengkonsumsi Magic Mushroom langsung tewas di tempat akibat
berhalusinasi menjadi kambing. “Dia teriak-teriak minta kami semua minggir, terus dia lari dan nyeruduk tembok sampai mati,” tuturnya sedih.

Ada juga pemakai NARKOBA yang mendapat bonus, hanya saja bukan berupa hadiah atau hal-hal yang menyenangkan, melainkan tambahan penyakit mematikan, yang
tak hanya menggerogoti diri sendiri, tapi juga dapat menular ke keturunannya.

Hal ini dialami mereka yang terjangkit virus HIV melalui kontak dengan jarum suntik dan peralatan lain yang digunakan untuk transfer NARKOBA ke tubuh.
Karena system kekebalan tubuh sudah lemah akibat reaksi NARKOBA, virus HIV jadi lebih mudah berkembang biak.

“Ya jadi gitu deh, nyambung nyawa aja, harus rajin minum obat tiap hari,” ujar seorang rekan baikku yang terkena HIV namun tetap punya semangat hidup yang
luar biasa, terlihat dari bagaimana ia menjelaskan penyakitnya dengan santai dan tanpa takut-takut.

Di malam terakhir kunjunganku ke Rumah Pengasih, aku ngobrol santai dengan Bang Jack. Sambil menyeruput juice jambu, kudengarkan kisah Bang Jack selama
menjadi penagih dadah dan bagaimana akhirnya ia berhenti dan berbalik jadi trainer, menolong ratusan nyawa dari efek buruk NARKOBA.

“Aku baru menyesal ketika melihat orangtuaku sedih, dan tambah menyesal ketika mereka tiada. Aku pun sedih melihat banyak penagih dadah menerima konsekwensi
atas tindakannya, tak hanya dari badannya sendiri, tapi juga dari lingkungan social,” jelasnya.

Lebih lanjut Bang Jack menjelaskan bahwa selain usaha-usaha pemulihan secara medis, yang terpenting sebenarnya adalah kesadaran untuk pulih itu sendiri,
karena apa pun bentuk usaha yang dilakukan untuk berhenti jadi penagih dadah, semuanya akan sia-sia kalau pribadi bersangkutan tidak memahami kenapa mereka
harus berhenti.

Salah satu cara paling jitu untuk berhenti adalah dengan melihat dan memahami contoh-contoh dampak buruk yang ditimbulkan karena NARKOBA, beberapa di antaranya
sama seperti yang sudah kutuliskan di atas.

Ya, istilahnya, sedia paying sebelum hujan. Dengan memperhatikan dampak buruk tersebut, diharapkan pengguna NARKOBA akan berhenti, dan mereka yang after
care tak lagi terperosok hingga memakai dadah di hari-hari mendatang. Contoh-contoh di atas (yang hanya sebagian kecil saja (pun jadi peringatan keras
bagi kita yang belum bersentuhan dengan dunia NARKOBA, agar kita mawas diri dan membuat batasan berupa kesadaran bahwa NARKOBA hanya akan mendatangkan
derita dan malapetaka.

Selain itu, adalah sebuah tugas mulia untuk bersama-sama membimbing mereka yang ingin pulih dari NARKOBA, sehingga kehidupan mereka (after care-red) akan
lebih hidup dan punya makna. Lebih dari itu, bila usaha pemulihan berhasil, bukan tidak mungkin hal tersebut bakal jadi inspirasi bagi orang-orang yang
terlanjur jadi penagih dadah, atau after care lain yang juga dalam perjalanan menuju pemulihan.

Maka, sadarlah, karena kesadaran itu pula yang akan membuat kita tetap hidup.