Sahabat,

Muatan blog kali ini akan menampilkan kehidupan lain aftercare, yaitu saudara-saudari kita yang tinggal di Malaysia. Ini diambil dari catatan Ramaditya Adikara, salah seorang relawan SRS yang pernah ikut mengunjungi markas aftercare di negeri Jiran tersebut.

***Bagian 1 dari 2***

“To be clean from drugs is a short beginning of a long journey.” (Mr. Hamid, Rumah Pengasih)

Ini adalah salah satu catatan hidupku yang penuh makna, sebuah pengalaman saat aku berjumpa dengan mereka, orang-orang yang telah menjadi salah satu inspirator utama dalam hidupku. Mereka bukan motivator, pengusaha kaya, atau pejabat negara. Mereka pun, boleh jadi, tak terlalu dihiraukan bahkan kerap diasingkan oleh masyarakat. Mereka, mantan pecandu NARKOBA yang telah “bersih dan sadar,” dan menjadi cahaya bagi rekan-rekan senasib yang ingin kembali ke jalan yang benar. Mereka yang kini menjadi teman baik dan bagian dari hidupku.

Tak terasa sudah bertahun-tahun sejak pertama kali aku bergabung dengan SRS (Sahabat Rekan Sebaya), komunitas yang mewadahi eks-pecandu NARKOBA (selanjutnya disebut after care) yang diasuh oleh Dr. Aisah Dahlan. Beliau adalah seorang dokter yang menangani segala hal yang berhubungan dengan NARKOBA, dan dari beliaulah aku belajar banyak mengenai benda terlarang itu.

Oh ya, SRS sendiri beranggotakan after care dengan berbagai keterampilan dan keahlian, yang dikelola secara administrative, sehingga terciptalah sebuah komunitas dengan seabrek kegiatan positif dan konstruktif.

Singkat cerita, waktu pun membawaku ke tanggal 23 Maret 2011, hari di mana rekan-rekan dari SRS berkunjung ke Rumah Pengasih, sebuah lembaga rehabilitasi after care yang berada di Negeri Jiran, Malaysia.

Ada pun tujuan kunjungan tersebut adalah untuk saling berbagi pengalaman dan sekaligus sebagai sarana silaturahim antar after care Indonesia dan Malaysia

Setibanya di Rumah Pengasih, kami disambut oleh Kak Suhaemi Ahmad, salah seorang trainer di sana. Kami pun saling berkenalan dengan residen (sebutan bagi penghuni Rumah Pengasih) yang jumlahnya sekitar 70 orang, 5 di antaranya wanita.

Dalam perkenalan yang berlangsung hangat itu, sesama after care saling melempar canda dan tawa. “Saya pernah pakai NARKOBA salama 5 tahun, tapi sudah bersih 6 tahun,” ujar salah seorang after care. “Yaaa, 5 tahun itu yang ketahuan, kalau yang curi-curi atau ngumpet-ngumpet bagaimana tuh,” timpal after care lain sambil berkelakar. “Mmmmm, saya tidak pernah pakai NARKOBA, dan di SRS jadi relawan, jadi sudah bersih dari lahir,” sambungku meneruskan candaan, yang dijawab dengan gelak tawa dari semua yang hadir siang itu.

Selanjutnya, kami dijamu makan siang oleh “kitchen,” yakni divisi yang beranggotakan staff dan klien Rumah Pengasih yang tugasnya sama dengan koki masak, mengurus isi perut seluruh warga yang tinggal di sana. Selain makan reguler 3 kali sehari, kami juga dijamu snack pada saat break, biasanya kami disuguhi kue-kue, didampingi kopi atau teh tarik (yang satu ini bikin aku kangen dengan Malaysia).
Setelah itu, Kak Suhaemi membagi kami menjadi beberapa kelompok tidur menurut kabin masing-masing, di mana tiap kabin berisi 3 sampai 5 orang. Kami pun didampingi oleh “buddy,” yaitu orang yang bertugas mengingatkan setiap waktu shalat dan menjemput peserta dalam setiap aktivitas.

Lalu kami pun diajak keliling lingkungan Rumah Pengasih. Kak Suhaemi yang akrab disapa Bang Jack itu membawa kami ke kantor Rumah Pengasih, di mana kami mendapat penjelasan mengenai apa-apa saja aktivitas, kegiatan, tanggungjawab, serta program yang ada di sana. Kami juga melihat-lihat barak-barak tempat tinggal residen di sana, serta kabin (semacam bilik berisi beberapa tempat tidur dan kamar mandi) tempat kami menginap. “Nah, ini namanya kolam Zarimah,” tunjuk Bang Jack ke sebuah kolam kecil yang letaknya tak jauh dari kantor Rumah Pengasih. “Wah di Indonesia juga ada wanita dengan nama yang sama, dan dia dijuluki Ratu NARKOBA,” ujar salah seorang relawan SRS.

Mengikuti aktivitas di Rumah Pengasih benar-benar menyenangkan dan sarat akan ketenangan. Kalau boleh kubandingkan, mungkin hamper sama seperti kalau kita mondok di pesantren atau sekolah alam, hanya saja peraturan tidak dijalankan dengan ketat, melainkan tertib.

Meski lokasinya berdekatan dengan jalan TOL dan suara hilir mudik kendaraan roda empat tak putus-putusnya menjadi pengiring kegiatan di sana, suasana kekeluargaan yang hangat dan nuansa keagamaan yang kental telah berhasil menyita kebetahanku.

Satu jam sebelum Adzan Subuh berkumandang, biasanya aku dan rekan-rekan sudah dibangunkan oleh buddy, lalu kami mandi dan bersiap-siap shalat Subuh berjamaah

Shalat-shalat di waktu berikutnya tak jauh berbeda, hanya saat Maghrib usai kami tidak meninggalkan Masjid, namun melanjutkan dengan membaca Al-Qur’an hingga Isya.

Ketika waktunya tiba, Adzan pun membahana di lokasi Rumah Pengasih dan kami berduyun-duyun menuju Masjid yang berada di dalam area Rumah Pengasih. Yang menarik adalah kuliah tujuh menit yang diberikan di akhir shalat benar-benar “mengambil masa” tujuh menit, tidak lebih!

Nah, kegiatan rehabilitasi di Rumah Pengasih pun mulai berjalan setelah Subuh usai. Setelah makan pagi, acara dilanjutkan dengan “Morning Meeting,” di mana rekan-rekan after care saling berbagi “issue,” yaitu semacam curahan hati, di mana mereka melakukan evaluasi terhadap diri sendiri, tentang apa-apa saja yang terjadi di hari sebelumnya. Dengan jujur mereka bercerita tentang apa saja, dan minta solusi dari rekan-rekan yang lain bila ada kesalahan atau kekurangan dalam sikap mereka di hari sebelumnya.

Dalam Morning Meeting, para pengasuh Rumah Pengasih juga berbagi materi seputar NARKOBA, tentang apa-apa saja yang harus dilakukan agar after care dapat tetap “bersih dan bijak” dan tak lagi terjerumus mengkonsumsi obat-obatan terlarang.

Siang harinya, tim SRS di bawah arahan Dokter Aisah pun berbagi materi, yang akan kubahas lebih dalam di artikel selanjutnya. Yang jelas, selama 5 hari kami berada di sana, tak ada waktu yang sia-sia terbuang karena kami mengisinya dengan penuh antusiasme dan suka cita.