Sahabat, coba hitung dalam sehari berapa lama waktu yang kamu habiskan untuk berselancar di social media? Bila lebih dari empat jam dalam sehari artinya kamu adalah salah satu orang yang terjangkit FOMO (Fear Of Missing Out). Sindrom ini memiliki gejala ketika seseorang takut ketinggalan update terkini dari dunia maya. Hasil survei Women’s Media Center di tahun 2014 menyatakan, 71% perempuan di seluruh dunia lebih aktif terikat dengan social media daripada laki-laki. Perempuan cenderung memiliki kepuasan tersendiri ketika mampu berinteraksi secara aktif di dunia maya. Perasaan bahagia pun timbul ketika notifikasi positif tertuju padanya.  Namun, kondisi ini pastinya berdampak buruk apabila membuat Kamu sampai kehilangan konsentrasi saat bekerja ataupun kekurangan waktu tidur. Sesuatu yang berlebihan tidak akan berakhir dengan baik, begitu pula dengan sindrom ini.  Simak penjelasannya:

 

Gangguan Penglihatan

Menatap cahaya terang dalam waktu berjam-jam dapat merusak mata. Dr. Richard Shugarman dari Bascom Palmer Eye Institute menyatakan, ketika mata terlalu sering terpapar layar terang maka daya penglihatannya akan berkurang. Gejalanya dimulai dari mata terasa kering, penglihatan kabur, dan  kepala terasa sakit. Selain mengurangi intensitas penggunaan gadget, solusi terbaik yang bisa Kamu lakukan adalah mengatur brightnesslayar serendah mungkin.

 

Istirahat Tidak Maksimal

Keasyikan nongkrong di social media membuat Kamu lupa waktu. Jangan biarkan waktu tidur Kamu tersita karenasocial media. Ingatlah, tubuh Kamu membutuhkan istirahat yang berkualitas. Batasi waktu penggunaan, Kamu harus tegas dalam menetapkan waktu untuk mengakses social media. Misalnya, 10 menit setelah makan siang atau makan malam berlangsung. Logout seluruh social media Kamu agar notifikasi tidak mengganggu konsentrasi saat membuka telepon genggam.

 

Selalu Merasa Tidak Puas

Pernahkah Kamu merasa cemburu ketika seorang teman membagikan foto sedang berlibur di pantai, sebuahresort, atau pesta dengan makanan mewah di tanggal tua? Bila iya artinya mungkin Kamu mulai sulit untuk mensyukuri apa yang Kamu miliki. Membandingkan kehidupan Kamu dengan kawan di dunia maya bukanlah hal yang bijak. Satu hal yang perlu diingat adalah di social media, seseorang selalu ingin tampil menjadi terbaik. Apa yang Kamu lihat di layar belum tentu seindah aslinya. Temukan kebahagiaan versi diri Kamu sendiri, cobalah untuk menjadi diri sendiri ketika tampil di dunia maya.

 

Melemahnya Kemampuan Bersosialisasi

Apakah Kamu gemar menegur sapa kawan-kawan di dunia maya melalui berbagai posting yang Kamu bagikan? Lalu bagaimana dengan di dunia nyata?  Sebuah studi dari jurnal PNAS menemukan bahwa seseorang merasa puas usai mengungkapkan isi hatinya di social media. Terlebih lagi ketika seorang teman dari dunia maya memberikan tanggapan berupa simpati. Tetapi, perlu diketahui bahwa apa yang terjadi di dunia maya tidak membantu menyelesaikan permasalahan yang sedang terjadi. Hal terburuk adalah ungkapan yang bernilai negatif justru membawa pengaruh buruk untuk nama baik Kamu. Ungkapkan isi hati Kamu secara langsung kepada sahabat atau keluarga, sosialisasikan dari hati ke hati. Hal ini lebih melegakan dan membantu daripada berteriak di social media.

 

Penghancur Mood

Setiap orang memiliki emotion-contagion dalam dirinya, yakni kondisi ketika Kamu merasakan emosi seseorang menular secara tiba-tiba. Misalnya, ketika Kamu membaca sebuah post berbau negatif dari seorang teman kemudian Kamu pun ikut merasa kesal. Menjaga lingkungan social media merupakan cara yang bijak untuk mengatasi masalah ini. Block akun yang menyebarkan energi negatif.

 

nah sahabat, media sosial bukanlah segalanya. Ada dunia dimana kamu harus benar-benar hidup. So, lebih cermat dalam menggunakan media sosial ya.

 

*DK